Selasa, 12 Agustus 2014

Mount Rinjani Ultra

I'm back!

Sedikit mau bercerita tentang event lari ultra international yang saya ikuti pada tanggal 9 Agustus 2014 yang lalu.
Oiya, untuk yang belum tau, bahwa istilah kata "Ultra" adalah untuk mendeskripsikan jarak lari.
Dimana pada umumnya yang kita kenal bahwa jarak dalam lomba lari itu ada jarak pendek, jarak menengah dan jarak jauh.
Khusus untuk jarak jauh ini dimulai dari 5K (5.000 m), 10K (10.000 m), 21K (Half Marathon), dan 42.195K  atau yang lebih populer disebut dengan Marathon.

Sedangkan untuk "ULTRA" sendiri adalah jarak yang lebih tinggi dari Marathon.

Back to topic.

Jadi memang pada dasarnya adalah iseng-iseng uji nyali dan mental ikut event Mount Rinjani Ultra.
Pada tahun 2013 pertama kali lari, kurang lebih setahun ikut event lari-larian di jalan, maka saya mencoba peruntungan uji nyali dan mental pindah aliran ke "Trail Running" atau lari di alam terbuka.

Pendaftaran Mount Rinjani Ultra -yang nanti akan lebih banyak saya singkat menjadi MRU- sudah dibuka sejak bulan November 2013. Lari trail ternyata tidak murah! karena membutuhkan peralatan khusus yang tidak digunakan pada lari di track lintasan seperti biasanya. Dari jenis sepatunya pun sudah berbeda. Maka akhirnya saya mulai nabung-nabung-nabung untuk mencicil membeli gear tral running.

Buat yang pengen tau apa itu MRU, ini ada link menuju website nya Mount Rinjani Ultra.

Saya berangkat bersama rombongan dari bandung, jadi total rombongan kami ada 13 orang.
5 dari 13 orang rombongan bandung ini adalah finisher (berhasil finish) MRU, dan juga merupakan event perdana mereka. Luar biasa!
Kalo menurut saya ya jelas mereka layak finisher, sering latihan, beda dengan saya yang cuma latihan sabtu atau minggu, itupun masih dipotong kalau ada lembur di kantor,haha.

MRU tahun ini sangat diminati, jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah peserta tahun ini meningkat 3 kali lipat.
MRU tahun lalu jumlah peserta hanya 80 orang, maka untuk tahun ini jumlah peserta adalah 250 orang.
Pada saat pengambilan racepack saja sampai mengantri panjang

Suasana Pengambilan Racepack




Pengambilan racepack dilakukan pada tanggal 8 Agustus 2014 pada pukul 09.00 pagi, lumayan antri, dapet racepack kira-kira jam 09.30.
Setelah itu pulang kembali ke penginapan, lalu tidur siang!
Tidur siang ini penting karena start MRU dilakukan pada malam hari tepat jam 12 malam, jadi ya gunakan waktu untuk istirahat sebelum malam penyiksaan tiba,haha

Situasi Menjelang Start MRU pada pukul 00.00 9 Agustus 2014
 
Bersama Rombongan dari Bandung. BDG Explorer.
Detik-detik menegangkan menjelang start. Campur aduk antara takut, mules, dan ngantuk.
Sebelum start, dinyanyikanlah lagu Indonesia Raya untuk membakar semangat para pelari
 *lebay deng. eh tapi bener nyanyi Indonesia Raya.


10...9...8...7...6...5...4...3...2...1 GO!

START MRU. GO!!!!
Altitude Gain MRU
Dapat dilihat pada gambar penampang diatas.
Bahwa sejak Start sampai dengan W2 itu adalah menanjak.
Asli nanjak terus sepanjang 10-11 km dengan kemiringan tanjakan sekitar 35-45 derajat.
GILA!
Banyak peserta yang baru sampai W1 dan W2 sudah menyerah.
Saya juga sebenarnya pengen nangis, tapi malu. ga jadi nangis :P
Tanjakan itu ga habis-habis.
Start jam 00.00 dan saya sampai di W2 itu pada pukul 04.00. Dan jam-jam itu puncak-puncaknya udara dingin menusuk. Paha hampir keram dan akhirnya istirahat sejenak di W2.

Dari W2 (Plawangan Senaru) lalu turun ke Segara Anak.
Indahnya pemandangan Segara Anak belum terlihat, masih gelap. Akhirnya saya turun dari W2 menuju W3 di Segara Anak. Dan saya kira sudah lumayan karena trek nya menurun, akan tetapi saya salah! tetap sama saja menyiksa nya. Banyak batu-batu tajam dan tebing yang curam. Beberapa kali harus melewati tangga yang terletak di dinding tebing dengan kemiringan 90 derajat. Amsyong!

Sampai di W3 atau Segara Anak
Kira-kira pukul  05.30. Ah sial banyak waktu terbuang karena tanjakan di trek menuju W2.
Kombinasi antara lapar dan ngantuk itu luar biasa.
Pengennya sih makan sambil tidur, tapi ga bisa ye!
Akhirnya isi perut dulu di W3, pakai pop mie yang sudah disediakan oleh panitia untuk peserta.
Pemandangan Segara Anak itu luar biasa indahnya. Coba silahkan di browsing sendiri ya,hehe
Soalnya saya ga banyak foto-foto disini, ngejar waktu takut kena COT (Cut Off Time) atau batas waktu yang telah ditetapkan.

Setelah makan pop mie dan ngemut sosis sonais, maka saya melanjutkan ke W4.
Sudah sampai disini penyiksaannya?
BELUM!
dari W3 menuju W4 itu jalannya sama persis seperti dari W2 menuju W3. Kudu ngelewatin atau kudu nanjak tebing terjal. Amsyong kuadrat!
Kudu nanjak tangga-tangga yang lumayan tinggi untuk dilangkahi.
dan disini mulai terasa sakit perut ingin pup (maaf).
Setelah melihat jam tangan, ah iya benar. Sekarang jam 07.00 pagi. Ini kan waktunya jam biologis untuk melakukan ritual nongkrong di wc. Tapi saya sedang berlari. Ah sial!

Alhasil sepanjang perjalanan menanjak mungkin ribuan kali saya kentut! hahaha
kepada pelari yang berada tepat di belakang saya ketika menanjak, mohon maaf apabila mendadak ada bau bangkai. hahaha

Pos W4. Plawangan Sembalun
Dan akhirnya tiba di Pos W4 pukul 08.15. Plawangan Sembalun, di ketinggian 2600 mdpl.
Dari sini pemandangannya indah luar biasa!
Karena Segara Anak terlihat jelas dari sini dan juga Puncak Rinjani terlihat jelas.

Pos W4. Plawangan Sembalun. Background Puncak Rinjani
Perjalanan menanjak menuju W4 juga sangat menguras tenaga, alhasil kelaperan lagi begitu sampai pos.haha
Makan pop mie dan sosis sonais lagi yang sudah disediakan
Lalu minum Pocari Sweat sambil berharap ada adik-adik JKT48 yang datang ke Rinjani untuk menghibur abang-abang yang sedang kelelahan berlari.

Istirahat 10 menit lalu saatnya summit attack.
saya berangkat dari Pos W4 menuju Puncak Rinjani kira-kira pukul 08.30.
Lumayan masih ada waktu sebelum COT jam 11.00 di puncak.
Saya hanya berjalan saja.

Medan berpasir menuju puncak rinjani sangat menyulitkan, 2 langkah naik maka akan ada 1 langkah turun. Berat sekali.
Apabila bergerak terlalu cepat maka bisa menimbulkan AMS (Acute Mountain Sickness) atau saya lebih senang menyebutnya penyakit di gunung.

Dan ternyata benar! saya terserang AMS.
Gejalanya adalah kepala pusing, perut mual dan mau muntah.
Dan akhirnya saya pun muntah, terduduk lemas di tanjakan berpasir.
Puncak masih 3 kilometer lagi. 3 kilometer nanjak berpasir. Super gila!

Duduk lemas karena semua makanan dan minuman yang sudah dimakan akhirnya keluar lagi.
Ah sial sudah tidak ada tenaga.
Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke W4 Plawangan Sembalun.

Sempat berisitrihat di dan tertidur sebentar,
akhirnya saya putuskan untuk turun ke W6 Sembalun.
Dengan sisa sisa tenaga Pop Mie+Sosis Sonais+Pocari Sweat+JKT48 akhirnya saya sampai di W6 Sembalun di ketinggian 1.570 mdpl.
Dan kepada panitia penjaga pos saya menyatakan DNF (Did Not Finish) atau tidak melanjutkan perlombaan.

Dan akhirnya jadilah saya DNF dan total waktu berlali adalah 13 jam dan jarak 31.2 km.

Saya turun ke Desa Sembalun, yang ternyata juga jaraknya amit-amit jauhnya.haha
Mungkin ada sekitar 20 km dari W6.
Sampai di Desa Semabalun pukul 15.30. Langsung aja naik ojeg tanpa tawar menawar karena saya sudah lelah :P
Naik ojeg untuk kembali ke Senaru dan kembali ke Penginapan.

Sesampainya di penginapan, mandi, ganti baju, lalu tidur!
Ah nikmat sekali bisa bertemu dengan kasur kembali.

Meskipun tidak finish.
Saya tetap bangga pada diri sendiri, bahwa saya bisa melampaui batas kemampuan diri sendiri.
Dan saya akan mempersiapkan diri untuk ikut lagi MRU di tahun 2015 mendatang.

MRU 2015 Saya Harus Finish!
*Dengan catatan apabila istri mengijinkan saya untuk lari-larian lagi,hehe

Map Course MRU

Water Station Position

 



Jumat, 04 Juli 2014

The Best Day Ever

Late Post!

1 Juli 1987, seorang anak laki-laki yang lahir di sebuah desa bernama Kroya yang terletak di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Mungkin karena faktor politik dimana orang pasti tidak akan mengenal nama Kroya, maka di akte kelahiran pun ditulis Cilacap.

1 Juli 1987, lahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai ibu guru sekolah dasar dan ayah yang bekerja di perusahaan swasta. Merupakan cucu ke-6 dari seorang petani.

1 Juli 1987, lahir di tanah Jawa tetapi sampai saat ini belum fasih berbahasa jawa. Harap dimaklum karena hanya lahir saja di Jawa lalu dibawa kembali ke tanah perantauan orang tua di Balikpapan.

Tanggal 1 Juli pun tidak terlalu istimewa, dimana saat anak kecil seumuran 4/5/6 tahun ketika ulang tahun nya selalu dirayakan, namun si cucu petani ini hanya dirayakan bersama mama dan papa nya dengan memasak nasi kuning dan bubur merah putih lalu bersantap bersama mama, papa dan kakak. (dulu si adik belum lahir. si adik lahir ketika saya berumur 8 tahun atau saat kelas 2 SD).

Sejak kecil sudah terbiasa ditinggal bekerja oleh ayah, ayah bekerja di rig minyak lepas pantai dengan jadwal kerja 14 hari di rig lalu libur 10 hari di rumah, jadi memang dulu tidak begitu dekat dengan ayah.

Walaupun orang tua saya mampu, tapi beliau tidak pernah membelikan saya sepeda motor sampai saya berusia 17 Tahun.
Walaupun orang tua saya mampu, tapi saya baru dibelikan mainan Sony Playstation saat saya kelas 6 SD.
Walaupun orang tua saya mampu, tapi saya tidak pernah dibelikan mainan sampai saya berhasil mengumpulkan 5 nilai 100 pada setiap ulangan (ujian) sekolah.

Disaat itulah saya belajar mengenai arti kesederhanaan hidup, perjuangan untuk meraih sesuatu dengan usaha sendiri. Dan sampai sekarang saya percaya, Apapun yang kamu dapatkan dengan perjuangan sendiri akan terasa sangat nikmat dan pasti akan kamu jaga sepenuhnya.

*Lalu kita menaiki mesin waktu!

1 Juli 2011, seperti biasa, ulang tahun yang ke 24 hanya biasa-biasa saja. Terkecuali doa dari sang mama yang berada jauh di Balikpapan sana, dan saya di Jatinangor. Satu-satunya kebahagiaan datangnya adalah dari sang pacar yang saat itu baru saja 4 bulan jadian. hahaha.
FYI : Pacar saya ini termasuk tipe jual mahal, pdkt nya saja memakan waktu 1 tahun.haha. serius.

Karena pada tahun 2011 itu lah saya melakukan sidang Sarjana. Tepatnya pada tanggal 11 Juli 2011.
Tidak pakai lama, hanya 7 hari setelahnya saya sudah harus bekerja di Palembang, bidang batubara.
Di sebuah perushaan yang sudah saya lamar dari bulan Maret 2011 lalu diterima pada bulan April 2011 padahal status saya masih belum lulus kuliah. Akhirnya saya ditungguin.

*Lalu kita menaiki mesin waktu lagi!

1 Juli 2014, selang 3 tahun yang terasa sangat cepat. Kali ini saya harus berhadapan dengan sang Dosen Penguji kembali, kali ini dalam sidang Pasca Sarjana, Program Magister.
Dan lagi-lagi! keindahan terjadi di Bulan Juli, saat saya berulang tahun dan berhasil mendapatkan gelar master.

1 Juli 2014. The Best Day Ever!

Rabu, 28 Mei 2014

Dan waktu pun kembali mengejar.

Tidak terasa sudah memasuki hampir setengah jalan di tahun 2014.
Waktu pun masih mengejar...dan akan terus mengejar..

Masih banyak tujuan yang harus diselesaikan..
Masih banyak tugas yang harus dirapihkan.
Apakah cukup waktu ku?
Apakah masih tersisa semangat ku?

Atas nama diriku dan masa depanku, sekali lagi aku ingin berbelok haluan.
menjalani sesuatu hal baru yang aku ciptakan.

rasanya sangat sulit menjadi individu yang cepat merasa bosan.

tapi dimana rasa tanggung jawabku.
semua sangat terasa membosankan, sungguh!

setiap individu itu unik
setiap individu itu menarik
tidak sama tetapi dapat disamakan

* Kubikel Pojok Lantai 2,5. Kantor Kwarsa.

*ratapan thesis yang tidak kunjung selesai

Senin, 06 Januari 2014

Senin, 6 Januari 2014

Sudah dini hari, masih belum bisa memejamkan mata.
Padahal saat siang pun tidak sempat beristirahat.

Sejenak terpikirkan rencana di tahun 2014 ini.
Ingin sekali mencoba berlari di gunung, bisa juga disebut trail running
Entah apa yang membuatku ingin berubah aliran seperti itu.

Yang jelas, kejadiannya sama seperti tahun lalu ketika ada event Jakarta Marthon 2013.
Begitu buka pendaftaraan langsung nekad daftar Half Martathon (21K), padahal keadaan saat itu masih cemen,
Lari sebentar, banyak jalan kaki nya.
'Ah bodo amat, masih 3 bulan lagi ini eventnya'

Dan sekarang terulag lagi,
Pendftaraan Ultra Trail Mount Rinjani dibuka, langsung daftar untuk yang jarak 52K, dan sampai saat ini, masih virgin marathoner alias belum pernah menjajal jarak 42K, apalagi 52K.
Sama seperti saat JakMar, namun kali ini masih sekitar 7 bulan lagi.

yang pasti....
7 bulan ini akan sangat berat.
* beresin thesis
* latihan lari sampai dengan minimal 52K
* dan....nabung untuk nikah.

Sempat punya pikiran, "ga akan ikut marathon (atau lomba jarak jauh lainnya) sebelum nikah dan punya anak"
pemikiran saat itu, ketika nanti menyampai garis finish, maka istri dan anak lah yang akan menyambutnya.
bahagia itu sederhana ya

sekali lagi...
semua perlu usaha, doa, dan kerja keras.
2014 never ending fighting