Selasa, 24 Mei 2016

teruntuk jagoan hebat papa

teruntuk jagoan papa yang paling hebat, janganlah menangis jikalau keinginan mu tidak papa turuti.
ingatlah nak, ini salah satu pembelajaran hidup, bahwa semua yang kamu inginkan tidak selalu bisa kamu dapatkan.

teruntuk jagoan papa yang paling hebat, janganlah mengeluh jikalau kasur mu terasa keras.
ingatlah nak, ini salah satu pembelajaran hidup, bahwa tidak selamanya kamu berada diatas lingkar roda kehidupan. adakalanya berputar dibawah, apapun kondisi hidupmu kelak, kamu bisa dengan nyaman menikmati setiap waktunya.

teruntuk jagoan papa yang paling hebat, janganlah marah jikalau mainan mu tidak sebagus teman-temannu.
ingatlah nak, ini salah satu pembelajaran hidup, bahwa apa yang kamu miliki harus kamu syukuri, dengan bersyukur maka niscaya akan ditambahkan nikmat untukmu. ini adalah janji Allah yang tidak mungkin teringkari.

teruntuk jagoan papa yang paling hebat, janganlah minder kalau rumah tempat tinggalmu terlalu sederhana.
ingatlah nak, ini salah satu pembelajaran hidup, bahwa tidak perlu terlihat bermewah-mewah, hiduplah sederhana, karena hartamu kelak tidak dibawa saat meninggal.

teruntuk jagoan papa yang paling hebat, papa akan mendidikmu dengan standard yang lebih tinggi dibanding dengan generasimu dan teman sebaya.
karena disaat dewasa nanti, mungkin engkau akan bersaing dengan 6 milyar manusia di bumi ini.
jika bandingkan dengan generasi papa yang bersaing dengan 3 milyar manusia, generasi kakek yang bersaing dengan 500 juta, bersaing dengan 6 milyar manusia tidaklah mudah.

jika engkau sukses dikemudian hari saat engkau dewasa, ingatlah karena semua usaha dan daya mu,
bukan semata mengandalkan kedua orangtua dan keluargamu.



Kamis, 25 Februari 2016

Thoriq Adhirajasa Daniswara (3) habis

Karena seorang bayi terlahir tidak membawa manual book nya.
mungkin hidup menjadi lebih mudah apabila setiap bayi memiliki dan membawa manual book nya
saat terlahir ke dunia.

Lalu terbayang... manual booknya berisi tata cara perawatan, jenis suara tangisan dan bahasa bayi
tapi sayang sekali manual book nya tidak ada,hahaha

seorang bayi itu unik, memiliki sifat karakter tersendiri -yang mungkin mencerminkan sifat salah satu orang tua nya ketika masih bayi juga- yang unik dan penuh pembelajaran untuk orang tua nya.

memiliki seorang bayi itu harus siap tempur 24 jam.
mimikin asi setiap 2 jam sekali dalam sehari, termasuk di tengah malam.
mencoba mengerti apa yang bayi inginkan apabila menangis.
mencuci + setrika pakaian bayi -terutama popok- yang jumlahnya sangat banyak.
dan masih banyak lagi.

memiliki bayi itu serasa 1 hari 24 jam itu terasa kurang.
mulai dari bangun subuh, mencuci popok dan baju bayi, lanjut setrika cucian baju yang sudah kering
dari hari sebelumnya, lalu lanjut menyapu + mengepel lantai, sementara istri memandikan bayi, lalu
membuat sarapan, istri mandi, suami jaga bayi, suami mandi, istri jaga bayi, istri sarapan, suami jaga bayi,
suami sarapan, istri jaga bayi, lalu suami berangkat kerja dan istri menjaga bayi.

saat suami pulang kerja pun tidak lantas langsung istirahat, menjaga bayi saat istri mandi, suami mandi,
istri jaga bayi, suami masak makan malam, istri jaga bayi, makan malam bergantian sembari menjaga bayi,

sudah selesai sampai makan malam? BELUM

sehabis makan malam, lanjut mencuci baju dan popok bayi yang kotor, beres mencuci lanjut setrika
cucian tadi pagi yang sudah kering.
biasanya semua itu selesai sekitar jam 8 - 9 malam, tergantung pulang kantor jam berapa.
belum lagi ketika ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan di rumah.

begitu seterusnya setiap hari.

jadi, punya bayi itu harus kompak antara suami dan istri,
harus kompak menjaga dan merawat bayi
jangan cuma kompak saat bikin bayi nya aja,hehe

setiap hari berlalu, setiap hari juga ada pembelajaran hal baru.

jadi,jangan takut untuk punya bayi.
karena ya memang seperti itulah menjadi orang tua dan manusia dewasa

Kamis, 04 Februari 2016

Thoriq Adhirajasa Daniswara (2)

Hari-hari setelah memiliki anak pun ternyata cukup merepotkan.
Belum lagi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menunjang kelangsungan kehidupan keluarga.
Jika saat baru menikah saja harus pintar membagi nya bersama pasangan, apalagi ketika sudah memiliki anak.

Selama masa kehamilan dan mempersiapkan kehidupan sang anak, mungkin pernah dengar orang tua berkata "anak itu pasti bawa rejeki"
Dan benar saja, saya pun merasakannya. Selain bekerja reguler di sebuah konsultan, saya pun punya usaha sampingan yaitu online shop yang membuat bantal (bantal custom). Saat awal menjalani memang terasa berat, hanya ada order 1 buah dalam 1 bulan, kemudian ada peningkatan sampai dengan sekarang alhamdulillah setiap minggu ada saja yang memesan. Dan saya percaya itu pasti rejeki yang dibawa oleh sang anak yang harus dijemput oleh kedua orang tuanya.

Karena anak itu adalah titipan dari Yang Maha Kuasa,
Tidak mungkin Yang Maha Kuasa menitipkan kepada kita tanpa diberikan jaminan kehidupannya kelak.

Misal begini, kita punya kucing peliharaan, suatu hari harus pergi keluar kota tanpa membawa kucing,
pastinya kucing itu dititipkan kepada orang yang akan merawatnya. Tentunya juga kita harus menyiapkan berupa uang untuk beli makanannya, untuk kebersihan kandangnya, untuk biaya perawatan dan sebagainya.
Begitupun dengan anak, apalagi yang menitipkan adalah Yang Maha Kuasa, percaya lah, pasti akan dicukupkan kebutuhan untuk kehidupannya.

Untuk pasangan yang belum memiliki anak, bersabarlah, gunakan waktu yang kosong ini untuk menabung mempersiapkan segalanya. Karena punya anak itu ga murah,hehe

Saat Masa Kehamilan
Biaya kontrol ke dokter kandungan setiap bulan, sekitar Rp 200.000 - Rp 600.000
Pada masa kehamilan 1-7 bulan, kontrolnya 1 bulan sekali
Pada masa kehamilan 7-8 bulan, kontrolnya 2 minggu sekali
Pada masa kehamilan 8-9 bulan, kontrolnya 1 minggu sekali
Pengajian / syukuran 4 bulanan, biaya sekitar Rp 3.000.000 - Rp 4.000.000
*tergantung kondisi masing-masing
Pengajian / syukuran 7 bulanan, biaya sekitar Rp 3.000.000 - Rp 4.000.000
*tergantung kondisi masing-masing, ada yang dilakukan dan ada yang tidak, karena 7 bulanan bersifat tradisi

Saat Persalinan,
Pada umumnya, para suami ingin memberikan kenyamanan dan layak kepada istrinya.
Maupun kepada keluarga nya saat ikut menemani,
Sebagai gambaran, saat persalinan anak pertama di Rumah Sakit Emma Poeradiredja, kelas VIP
masa perawatan 3 hari 2 malam + biaya dokter + obat + perawatan + persalinan normal
menghabiskan biaya sekitar Rp 9.700.000
Rumah Sakit Emma, menurut saya adalah salah satu rumah sakit yang masih wajar harganya dan terjangkau.

Pasca persalinan,
Saat pasca persalinan pun juga memerlukan banyak biaya.
Diantaranya aqiqah, aqiqah dilakukan 7 atau 14 atau 21 atau 28 hari setelah anak lahir.
Namun yang paling utama dilakukan pada 7 hari setelah anak lahir.
Biaya untuk 2 ekor kambing saja sudah 5-6 juta, belum biaya yang lainnya.
Jadi kemarin saat Thoriq aqiqah, kurang lebih sekitar 10-11 juta

Sekali lagi, saya tidak berniat sombong atau pamer, hanya sekedar berbagi tentang apa yang pernah saya lewati. Semua kembali lagi kepada masing-masing pribadi, karena saat ini sudah banyak sekali pilhan.
Karena urusan keuangan itu bisa jadi hal yang paling sensitif dalam kehidupan berkeluarga.

Selagi belum memiliki anak, maka menabung lah sebanyak banyaknya.
Persiapkan semuanya dengan matang. Karena anak terlahir ke dunia tidak membawa Manual Book nya,hehe

Bersambung ke Part 3 ya










Senin, 01 Februari 2016

Thoriq Adhirajasa Daniswara (1)

Thoriq Adhirajasa Daniswara, lahir di Bandung 1 Januari 2016.
Sedikit banyak cerita tentang dirinya, massa selama di kandungan, dan baru 1 bulan berada di dunia.

Selama massa kehamilan, awal-awal usia kehamilan layaknya bunda-bunda yang lain, bunda nya Thoriq ini juga morning sickness, muntah setiap pagi.

Dan alhamdulillah, ngidam nya ga terlalu sering, entah ditahan-tahan bunda nya tau emang beneran ga ngidam.

Setelah memasuki bulan ke-6 ke-7 baru deh mulai ngidam.
Untungnya ga ngidam yang aneh-aneh, cuma sebatas pengen mangga muda dan bubur ayam tengah malem.

Sejak bulan ke-6 dan ke-7, dek Thoriq makin sering diajak ngobrol ayah bunda nya.
Biasanya setiap malem dielus-elus terus diajak ngobrol ayah bilangnya begini "Nak, nanti jadi anak yang soleh ya, ayah bunda nya disayang, kalau mau lahir nanti yang normal aja ya" gitu terus sampai menjelang kelahiran.

alhamdulillah begitu waktunya lahir, lahir secara normal dan hanya berlangsung selama 30 menit di ruang persalinan.

Ketika tanggal 31 Desember 2015, hari terakhir ngantor, rencana keesokan pagi tanggal 1 Januari mau pulang ke Ciamis saja, lahiran disana. Tapi ternyata sejak sore hari bunda nya sudah mules-mules.
Beruntung tetangga di depan rumah seorang bidan, langsung lah coba di periksa.
dan ternyata sudah pembukaan 2. Panik!!

FYI : berdasarkan prediksi dokter, due date lahirannya sekitar tanggal 11-16 Januari, tapi ternyata prediksi dokter bisa meleset.

31 Desember 2015 selepas magrib langsung tancap gas ke rumah sakit,khawatir akan macet di jalan karena menginat waktu itu adalah malam pergantian tahun baru. Dan entah mengapa, seperti diberi jalan kelancaran menuju rumah sakit, setiap melewati lampu lalu lintas selalu pas lampu hijau yang menyala. Bukan cuma sekali, bahkan sampai 4 kali. Dan ketika melewat Jl. Sunda,tiba-tiba hujan besar turun, hujan turun menyebabkan banyak motor yang berhenti. Kita tahu berapa populasi motor kalau mereka sudah turun ke jalan? banyak banget! Dan saat itu hujan, hanya beberapa motor saja yang ada di jalan raya. Semakin lancar lah perjalanan saat itu.




Bisa jadi itu adalah kuasa Allah SWT memberikan kelancaran kepada kami untuk mencapai rumah sakit.

Total waktu tempuh dari rumah ke rumah sakit hanya 30 menit, dari yang biasanya sekitar 45-60 menit.
Alhamdulillah

Begitu sampai di rumah sakit, dokter kandungan yang selama ini sering berkonsultasi saat kontrol ternyata sedang cuti. Jadi lah untuk sementara waktu dibantu oleh para bidan. Dan ternyata dokter ini menitipkan kepada teman dokternya untuk membantu proses persalinan.

Bersambung ke Part 2 ya.





Selasa, 29 September 2015

Lepas Sepatu (?)

punya hobi tentunya hak setiap orang.
dan punya keluarga adalah harapan semua orang

tapi apa yang terjadi jika keluargamu membutuhkan peranmu daripada hobimu.
sewaktu melajang, akhir pekan adalah waktu yang paling ditunggu untuk menyalurkan hobi

bukan berarti aku tidak suka dengan keadaan yang sekarang, hanya saja belum terbiasa.
pola rutinitas yang sedikit demi sedikit berubah tentunya harus diadaptasikan kembali.

apalagi ketika peranmu sebagai kepala keluarga
seorang ayah, seorang suami

ada perasaan bangga ketika sudah menikah
itu artinya kita sudah dewasa, matang usia, mental dan pikiran
karena menikah itu tidak segampang yang dibayangkan.
ketika 2 isi kepala yang berbeda, dengan pola pikir dan pengalaman hidup yang berbeda disatukan, itu bukan hal mudah.

apalagi ketika mengetahui bahwa suamimu kalau tidur suka mengorok
dan istrimu kalau tidur sambil latihan kung fu.

sempat terlintas untuk lepas sepatu, berhenti mengikuti kegiatan lari berlari
tetapi tidak untuk selamanya
apapun itu, mengurus keluarga juga ternyata mengasyikan,

namun ketika mengetahui bahwa si Tody versi 2.0 berjenis kelamin laki-laki,
saya sadar, saya harus sehat, untuk anak-anak saya kelak.
semoga sehat terus ya nak di dalam rahim,
hingga tiba saatnya lahir ke dunia, cepat tumbuh besar agar bisa kuajak berlari lari



Rabu, 15 April 2015

NusantaRun Chapter 2. Bogor - Bandung 118K

Rasanya udah lebih dari seabad ga nulis. *(ini lebay, kampret!)
Keinginan untuk tulis menulis kadang ada, kadang hilang, disitu kadang saya merasa asu *censored
Kadang pengen nulis eh bahannya ga ada. Giliran ada bahan eh internetnya ga ada.
Dan kali ini semesta mendukung saya. Niat nulis ada, bahan ada, internet ada, eh camilan ga ada. bentar ye beli cemilan dulu....


Oke, kali ini saya pengen nulis tentang sebuah event charity yang judulnya NusantaRun Chapter 2. Bogor - Bandung 118K.
apa itu NusantaRun?
kenapa kok Chapter 2?

Jadi begini, NusantaRun itu adalah sebuah gerakan dimana semua partisipan yang terlibat didalamnya memberikan kontribusi kepada yang lainnya. Dengan cara penggalangan dana yang unik, dimana ada 3 elemen pendukung yang dapat mewujudkannya. Pertama adalah Pelari yang akan berlari dari salah satu tempat iconic ke tempat lainnya dengan dukungan tim supporting dan kalian dapat ikut berpatisipasi dengan cara memberikan donasi kepada pelari idola kalian, atau tim pendukung
So NusantaRun when the love of running meet the love of our country Indonesia, to show that we care for others' future!

NusantaRun Chapter 1 sudah pernah dilakukan pada tahun 2013. Dengan rute Jakarta-Bogor. Pada saat itu, Chapter 1 berhasil mengumpulkan donasi sekitar 130an juta untuk disumbangkan kepada lembaga pendidikan terpilih. Berlatar belakang kesuksesan Chapter 1, maka dibuatkanlah Chapter 2 dengan harapan bisa memberi donasi lebih banyak kepada mereka yang kurang beruntung.

Tema Chapter 2 ini adalah 'Sekolah Lagi' dimana NusantaRun akan memberikan donasi kepada salah satu yayasan pendidikan, yaitu Yayasan Peduli Anak Bangsa (YPAB) *dari namanya aja udah keren kan.

Nah begitu latar belakang dari diadakannya NusantaRun Chapter 2.
Sekarang saya lanjut lagi ya.

Singkat kata, akhirnya pendaftaran untuk Chapter 2 pun dibuka secara online di situs NusantaRun.
Isenglah saya coba ikut, ada 2 kategori yang bisa dipilih, Full Course atau Tim Relay, dengan percaya diri saya langsung pilih Full Course dengan jarak tempuh 118K, padahal saya belum pernah lari dengan jarak sejauh itu. Masih ada waktu untuk latihan beberapa bulan, bisa lah! bisa!.

Oiya! Dengan mendaftarkan diri di NusantaRun ini, kalian para pelari diharuskan mencari donasi ya.
Target donasi bisa kalian tentukan sendiri berapa besarnya.

Tiba harinya! Jumat tanggal 19 Desember berkumpul di Balaikota Bogor untuk melakukan Start awal. Banyak pelari 'hampir gila' yang ikut event ini dan mereka juga berasal dari berbagai macam profesi pekerjaan, dan yang jelas mereka punya keinginan yang sama yaitu membantu anak-anak yang putus sekolah agar bisa kembali lagi mengenyam pendidikan.

Suasana di Balai Kota Bogor Sebelum Dilepas Oleh Walikota Bogor Bima Arya. 

Dan saya yang memakai headlamp dengan lampu warna merah pada foto diatas

Sepanjang 118 kilometer ini, kita diberikan tempat untuk beristirahat. Total ada 7 Checkpoint yang bisa disinggahi untuk beristirahat sebelum melanjutkan kilometer-kilometer berikutnya. Jarak antar Checkpoint berkisar antara 15-20 km.
Start dilakukan pada hari Sabtu 20 Desember 2014 pada pukul 00.00, dilepas langsung oleh Bapak Walikota Bogor. Dan tujuan pertama adalah Checkpoint 1 di Pertigaan Gadog, Bogor.
Saya mencapai pertigaan gadog kira-kira pukul 02.30. Istirahat, pipis, isi botol minum, lalu cek out dari CP 1 menuju CP 2.
Jarak antar CP 1 ke CP 2 sekitar 20 km, ya biasa saja sih dengan jarak segitu, yang ga bikin biasa yaitu, karena CP 2 ini ada di Puncak Pass. Modyar!  Lari nanjak ke Puncak Pass. Saya menghabiskan waktu sekitar 5 jam 30 menit untuk bisa sampai ke CP 2. Sampai di CP 2 sekitar pukul 08.00. Ritual pagi yang biasa dilakukan pada pukul 07.00 tetap saya lakukan..... di toilet umum pom bensin,hehe.

Seperti biasa, di CP hanya minum, isi botol air minum, makan mie instan seduh, tidur 30 menit lalu lanjut lagi ke CP 3.

CP 3 berada di kawasan Cipanas, Cianjur, saya lupa tepatnya dimana. Untungnya dari Puncak Pass jalanan menuju Cianjur menurun, jadi tidak terlalu berat, dan pada saat itu sedang panas-panasnya, sekitar jam 10-11an, ampun dah! Matahari ngajak 3 sodaranya untuk bersinar juga.

Sampai di CP 3, kira-kira jam 11.30. Biasalah, cek in, ngelurusin kaki, isi botol air minum, makan pisang, minta bantuan teteh-teteh cantik dari fisioterapi  untuk mijetin kaki,hehe
sambil ditekuk tekuk kaki ke kepala, tapi beneran deh peran fisioterapi itu membantu banget.
Oiya saya juga mengkonsumsi sejenis pil yang namanya "Salt Stick.Salt stick ini membantu tubuh untuk memberikan garam tambahan kepada tubuh, dan juga mencegah keram. Ketika berlari, maka keringatmu akan mengalir kan, dan ketika kamu berlari lebih jauh, lebih lama, tertiup angin, maka keringat itu akan jadi garam yang menempel di kulit/ pakaianmu. Kekurangan garam/ isotonik bisa membuatmu keram. Maka dari itu saya makan salt stick itu.

 Ya begitulah seterusnya yang saya lakukan pada setiap CP di sepanjang jalur menuju Bandung. Kehujanan, kepanasan, baju basah, kering lagi sudah jadi hal yang biasa.
Hingga tiba saatnya di CP 4 yang berada kantor Dishub Cianjur. Nah titik ini yang menjadi cekpoin kontrol, dimana drop bag dari peserta diletakkan disini, dan ini merupakan titik start bagi pelari kedua dalam Tim Relay.
Karena kehujanan di jalan dari CP 3 ke CP 4, akhirnya ganti pakaian di CP 4, dan juga ganti sepatu. Karena sepatu sudah kebasahan sebelumnya. Sepatu basah bisa menyebabkan blister, atau bahasa kerennya itu CANTENGAN.

Lanjut lagi dari CP 4 ke CP 5. Cek out dari CP 4 sekitar pukul 16.00 menuju CP 5. CP 5 ini masih berada di daerah Cianjur, tepatnya di Rumah Makan Tahu Sumedang Renyah. Saya masuk ke CP 5 ini sekitar pukul 20.10. Tidur dulu sekitar 60 menit. Ini kaki udah ga karu-karuan rasanya, untungnya ada teteh-teteh fisioterapis cantik,hehehe..


Saya cek out lagi CP 5 menuju CP 6. Sekitar jam 21.00. Lari malam!
CP 6 itu terletak di daerah Padalarang, tepatnya di Rumah Makan Sari Soenda. Dalam keadaan gelap, malam, saya berlari sendiri. Tau sendiri di daerah Padalarang kalau malam, gelap! lampu jalan kurang banyak, dan untungnya saat itu belum musim begal.
Kendaraan besar bermuatan penuh, asap kendaraan, belum lagi bus antar kota yang kencang melintas, akhirnya saya pun memutuskan untuk berlari ke sisi sebelah kanan jalan (menyeberang) dengan tujuan kontra flow atau lawan arus sehingga kendaraan yang datang dari arah depan kita terlihat dan kita bisa menghindar mencari jalur yang lebih aman. Itu yang disebut dengan safety running.

Masalah yang sering dihadapi oleh pelari jarak jauh pada umumnya adalah halusinasi. Dengan jarak tempuh yang panjang,  waktu istirahat yang relatif singkat, faktor kelelahan, pikiran semerawut, dan lain-lain itu lah yang memicu dapat terjadinya halusinasi.
Disanalah saya pertama kali merasakan halusinasi, berlari sendiri, tengah malam, kecapekan dan saya sempat blank pikiran!! Kenapa saya lari lawan arah?! Saya dimana ini, ngapain kok lari-lari?! Kok sudah malam?! Sempat blank beberapa saat, akhirnya saya putuskan berjalan saja untuk mencapai CP 6. Sepanjang jalan saya masih terus berpikir tapi rasanya sangat sulit sekali mengingat hal yang udah dilakukan.
Beristirahat sekitar 30 menit di pinggir jalan, akhirnya sayapun kembali pulih bisa mengingat apa yang sedang saya lakukan. Dan tanpa saya sadari pun saya melewati CP 6 tanpa melakukan cek in lapor dan istirahat.

ah kampret! CP 6 sudah terlewat, udah jauh pula. masa iya balik lagi, mau finish jam berapa nanti?!
Masa bodo! akhirnya saya teruskan saja ke CP 7. Check point terakhir sebelum memasuki Bandung.
Pada pukul 04.30 subuh akhirnya saya sampai juga di CP 7 yang berada di Iwan Medical Center (IMC) Cimahi. Dan seluruh tim support sempat panik karena mengira saya hilang, tersesat, diculik, dan sebagainya.
Sempat dihubungi oleh Race Director, dan meyakinkan bahwa yang masuk ke CP 7 adalah Tody yang asli, bukan orang lain penyusup.
Start dari CP 5 pukul 21.00 dan sampai CP 7  pukul 04.30, artinya saya habiskan waktu 7 jam 30 menit di jalan!

Di CP 7 sempat di tensi darah, dan detak jantung, ternyata tinggi!!
Tim dokter sempat menanyakan apakah saya sanggup untuk melanjutkan hingga finish atau cukup sudah sampai CP 7. Mengingat kondisi saya ketika sampai CP 7 sudah sangat kelelahan, air minum yang dibawa sudah habis, apalagi makanan. Terang saja saya ingin lanjut hingga finish, saya yakin kan mereka kalau saya ingin finish! akhirnya tim dokter menyetujui kemauan saya, dengan catatan jika terjadi apa-apa sebelum finish harus menghubungi tim medis.

Makan dan minum yang banyak di CP 7, dan saya pun melanjutkan kembali hingga ke garis finish di Balaikota Bandung.
Saat itu tenaga saya sudah habis, habis sehabis-habisnya, kaki sudah tidak kuat lagi diajak berlari. Dengkul terasa linu luar biasa, dan saya putuskan saja saya jalan kaki saja sampai ke finish.
Start dari CP 7 pada pukul 05.30

Jalan kaki dari Cimahi - Bandung ini terasa sangat jauh *yaiyalah, aslinya juga jauh banget!
Dari Cimahi, melewati Gunung Batu - Pasteur - Viaduct - Padjadjaran - BIP dan akhirnya saya finish di Balaikota.
Menyiksa sisa sisa tenaga, saya paksa lari memasuki garis finish supaya lebih dramatis *pret!
eh tapi beneran saya masuk finish nya lari.
Saya finish di Balaikota Bandung kira-kira pukul 09.15 dan artinya itu saya berhasil menyelesaikan Bogor - Bandung dengan catatan waktu kira-kira 33 jam 15 menit.



Detik-Detik Memasuki Garis Finish di Balaikota Bandung. Udah abis tenaga!!

Nomor BIB 033. Full Course Bogor - Bandung
Memasuki Garis Finish. Gaya selebrasi tangan direntangkan lalu tos kanan-kiri dengan penonton dekat finish

TOS!!

akhirnya finish juga!


118 km *aktualnya adalah 122 km
118 km memberikan saya pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa!
118 km membuat saya percaya bahwa setiap manusia pasti bisa melampaui kemampuan dirinya.
118 km membuat saya bangga, saya bisa bercerita kepada anak saya kelak, kalau ayahnya orang hebat *ini narsis!

dan apabila nanti akan dibuka untuk NusantaRun Chapter 3, percayalah, saya akan daftar kembali untuk berlari.
pantengin terus website NusantaRun, jangan sampai ketinggalan kalau berminat ikut Chapter 3.


Ini ada sedikit dokumentasi tentang kegiatan NusantaRun, sebelum event dan pada saat event diselenggarakan. Bisa lihat disini 

Dan ini adalah video upload ke youtube yang bikin kita para peserta susah move on dari keseruan NusantaRun.



*berdasarkan gossip yang beredar bahwa NusantaRun Chapter 3 nanti akan mengambil rute dari Bandung ke Tasikmalaya dengan jarak tempuh 115-120 km.
Bersiap lah!!

Selasa, 12 Agustus 2014

Mount Rinjani Ultra

I'm back!

Sedikit mau bercerita tentang event lari ultra international yang saya ikuti pada tanggal 9 Agustus 2014 yang lalu.
Oiya, untuk yang belum tau, bahwa istilah kata "Ultra" adalah untuk mendeskripsikan jarak lari.
Dimana pada umumnya yang kita kenal bahwa jarak dalam lomba lari itu ada jarak pendek, jarak menengah dan jarak jauh.
Khusus untuk jarak jauh ini dimulai dari 5K (5.000 m), 10K (10.000 m), 21K (Half Marathon), dan 42.195K  atau yang lebih populer disebut dengan Marathon.

Sedangkan untuk "ULTRA" sendiri adalah jarak yang lebih tinggi dari Marathon.

Back to topic.

Jadi memang pada dasarnya adalah iseng-iseng uji nyali dan mental ikut event Mount Rinjani Ultra.
Pada tahun 2013 pertama kali lari, kurang lebih setahun ikut event lari-larian di jalan, maka saya mencoba peruntungan uji nyali dan mental pindah aliran ke "Trail Running" atau lari di alam terbuka.

Pendaftaran Mount Rinjani Ultra -yang nanti akan lebih banyak saya singkat menjadi MRU- sudah dibuka sejak bulan November 2013. Lari trail ternyata tidak murah! karena membutuhkan peralatan khusus yang tidak digunakan pada lari di track lintasan seperti biasanya. Dari jenis sepatunya pun sudah berbeda. Maka akhirnya saya mulai nabung-nabung-nabung untuk mencicil membeli gear tral running.

Buat yang pengen tau apa itu MRU, ini ada link menuju website nya Mount Rinjani Ultra.

Saya berangkat bersama rombongan dari bandung, jadi total rombongan kami ada 13 orang.
5 dari 13 orang rombongan bandung ini adalah finisher (berhasil finish) MRU, dan juga merupakan event perdana mereka. Luar biasa!
Kalo menurut saya ya jelas mereka layak finisher, sering latihan, beda dengan saya yang cuma latihan sabtu atau minggu, itupun masih dipotong kalau ada lembur di kantor,haha.

MRU tahun ini sangat diminati, jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah peserta tahun ini meningkat 3 kali lipat.
MRU tahun lalu jumlah peserta hanya 80 orang, maka untuk tahun ini jumlah peserta adalah 250 orang.
Pada saat pengambilan racepack saja sampai mengantri panjang

Suasana Pengambilan Racepack




Pengambilan racepack dilakukan pada tanggal 8 Agustus 2014 pada pukul 09.00 pagi, lumayan antri, dapet racepack kira-kira jam 09.30.
Setelah itu pulang kembali ke penginapan, lalu tidur siang!
Tidur siang ini penting karena start MRU dilakukan pada malam hari tepat jam 12 malam, jadi ya gunakan waktu untuk istirahat sebelum malam penyiksaan tiba,haha

Situasi Menjelang Start MRU pada pukul 00.00 9 Agustus 2014
 
Bersama Rombongan dari Bandung. BDG Explorer.
Detik-detik menegangkan menjelang start. Campur aduk antara takut, mules, dan ngantuk.
Sebelum start, dinyanyikanlah lagu Indonesia Raya untuk membakar semangat para pelari
 *lebay deng. eh tapi bener nyanyi Indonesia Raya.


10...9...8...7...6...5...4...3...2...1 GO!

START MRU. GO!!!!
Altitude Gain MRU
Dapat dilihat pada gambar penampang diatas.
Bahwa sejak Start sampai dengan W2 itu adalah menanjak.
Asli nanjak terus sepanjang 10-11 km dengan kemiringan tanjakan sekitar 35-45 derajat.
GILA!
Banyak peserta yang baru sampai W1 dan W2 sudah menyerah.
Saya juga sebenarnya pengen nangis, tapi malu. ga jadi nangis :P
Tanjakan itu ga habis-habis.
Start jam 00.00 dan saya sampai di W2 itu pada pukul 04.00. Dan jam-jam itu puncak-puncaknya udara dingin menusuk. Paha hampir keram dan akhirnya istirahat sejenak di W2.

Dari W2 (Plawangan Senaru) lalu turun ke Segara Anak.
Indahnya pemandangan Segara Anak belum terlihat, masih gelap. Akhirnya saya turun dari W2 menuju W3 di Segara Anak. Dan saya kira sudah lumayan karena trek nya menurun, akan tetapi saya salah! tetap sama saja menyiksa nya. Banyak batu-batu tajam dan tebing yang curam. Beberapa kali harus melewati tangga yang terletak di dinding tebing dengan kemiringan 90 derajat. Amsyong!

Sampai di W3 atau Segara Anak
Kira-kira pukul  05.30. Ah sial banyak waktu terbuang karena tanjakan di trek menuju W2.
Kombinasi antara lapar dan ngantuk itu luar biasa.
Pengennya sih makan sambil tidur, tapi ga bisa ye!
Akhirnya isi perut dulu di W3, pakai pop mie yang sudah disediakan oleh panitia untuk peserta.
Pemandangan Segara Anak itu luar biasa indahnya. Coba silahkan di browsing sendiri ya,hehe
Soalnya saya ga banyak foto-foto disini, ngejar waktu takut kena COT (Cut Off Time) atau batas waktu yang telah ditetapkan.

Setelah makan pop mie dan ngemut sosis sonais, maka saya melanjutkan ke W4.
Sudah sampai disini penyiksaannya?
BELUM!
dari W3 menuju W4 itu jalannya sama persis seperti dari W2 menuju W3. Kudu ngelewatin atau kudu nanjak tebing terjal. Amsyong kuadrat!
Kudu nanjak tangga-tangga yang lumayan tinggi untuk dilangkahi.
dan disini mulai terasa sakit perut ingin pup (maaf).
Setelah melihat jam tangan, ah iya benar. Sekarang jam 07.00 pagi. Ini kan waktunya jam biologis untuk melakukan ritual nongkrong di wc. Tapi saya sedang berlari. Ah sial!

Alhasil sepanjang perjalanan menanjak mungkin ribuan kali saya kentut! hahaha
kepada pelari yang berada tepat di belakang saya ketika menanjak, mohon maaf apabila mendadak ada bau bangkai. hahaha

Pos W4. Plawangan Sembalun
Dan akhirnya tiba di Pos W4 pukul 08.15. Plawangan Sembalun, di ketinggian 2600 mdpl.
Dari sini pemandangannya indah luar biasa!
Karena Segara Anak terlihat jelas dari sini dan juga Puncak Rinjani terlihat jelas.

Pos W4. Plawangan Sembalun. Background Puncak Rinjani
Perjalanan menanjak menuju W4 juga sangat menguras tenaga, alhasil kelaperan lagi begitu sampai pos.haha
Makan pop mie dan sosis sonais lagi yang sudah disediakan
Lalu minum Pocari Sweat sambil berharap ada adik-adik JKT48 yang datang ke Rinjani untuk menghibur abang-abang yang sedang kelelahan berlari.

Istirahat 10 menit lalu saatnya summit attack.
saya berangkat dari Pos W4 menuju Puncak Rinjani kira-kira pukul 08.30.
Lumayan masih ada waktu sebelum COT jam 11.00 di puncak.
Saya hanya berjalan saja.

Medan berpasir menuju puncak rinjani sangat menyulitkan, 2 langkah naik maka akan ada 1 langkah turun. Berat sekali.
Apabila bergerak terlalu cepat maka bisa menimbulkan AMS (Acute Mountain Sickness) atau saya lebih senang menyebutnya penyakit di gunung.

Dan ternyata benar! saya terserang AMS.
Gejalanya adalah kepala pusing, perut mual dan mau muntah.
Dan akhirnya saya pun muntah, terduduk lemas di tanjakan berpasir.
Puncak masih 3 kilometer lagi. 3 kilometer nanjak berpasir. Super gila!

Duduk lemas karena semua makanan dan minuman yang sudah dimakan akhirnya keluar lagi.
Ah sial sudah tidak ada tenaga.
Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke W4 Plawangan Sembalun.

Sempat berisitrihat di dan tertidur sebentar,
akhirnya saya putuskan untuk turun ke W6 Sembalun.
Dengan sisa sisa tenaga Pop Mie+Sosis Sonais+Pocari Sweat+JKT48 akhirnya saya sampai di W6 Sembalun di ketinggian 1.570 mdpl.
Dan kepada panitia penjaga pos saya menyatakan DNF (Did Not Finish) atau tidak melanjutkan perlombaan.

Dan akhirnya jadilah saya DNF dan total waktu berlali adalah 13 jam dan jarak 31.2 km.

Saya turun ke Desa Sembalun, yang ternyata juga jaraknya amit-amit jauhnya.haha
Mungkin ada sekitar 20 km dari W6.
Sampai di Desa Semabalun pukul 15.30. Langsung aja naik ojeg tanpa tawar menawar karena saya sudah lelah :P
Naik ojeg untuk kembali ke Senaru dan kembali ke Penginapan.

Sesampainya di penginapan, mandi, ganti baju, lalu tidur!
Ah nikmat sekali bisa bertemu dengan kasur kembali.

Meskipun tidak finish.
Saya tetap bangga pada diri sendiri, bahwa saya bisa melampaui batas kemampuan diri sendiri.
Dan saya akan mempersiapkan diri untuk ikut lagi MRU di tahun 2015 mendatang.

MRU 2015 Saya Harus Finish!
*Dengan catatan apabila istri mengijinkan saya untuk lari-larian lagi,hehe

Map Course MRU

Water Station Position