Kamis, 25 Februari 2016

Thoriq Adhirajasa Daniswara (3) habis

Karena seorang bayi terlahir tidak membawa manual book nya.
mungkin hidup menjadi lebih mudah apabila setiap bayi memiliki dan membawa manual book nya
saat terlahir ke dunia.

Lalu terbayang... manual booknya berisi tata cara perawatan, jenis suara tangisan dan bahasa bayi
tapi sayang sekali manual book nya tidak ada,hahaha

seorang bayi itu unik, memiliki sifat karakter tersendiri -yang mungkin mencerminkan sifat salah satu orang tua nya ketika masih bayi juga- yang unik dan penuh pembelajaran untuk orang tua nya.

memiliki seorang bayi itu harus siap tempur 24 jam.
mimikin asi setiap 2 jam sekali dalam sehari, termasuk di tengah malam.
mencoba mengerti apa yang bayi inginkan apabila menangis.
mencuci + setrika pakaian bayi -terutama popok- yang jumlahnya sangat banyak.
dan masih banyak lagi.

memiliki bayi itu serasa 1 hari 24 jam itu terasa kurang.
mulai dari bangun subuh, mencuci popok dan baju bayi, lanjut setrika cucian baju yang sudah kering
dari hari sebelumnya, lalu lanjut menyapu + mengepel lantai, sementara istri memandikan bayi, lalu
membuat sarapan, istri mandi, suami jaga bayi, suami mandi, istri jaga bayi, istri sarapan, suami jaga bayi,
suami sarapan, istri jaga bayi, lalu suami berangkat kerja dan istri menjaga bayi.

saat suami pulang kerja pun tidak lantas langsung istirahat, menjaga bayi saat istri mandi, suami mandi,
istri jaga bayi, suami masak makan malam, istri jaga bayi, makan malam bergantian sembari menjaga bayi,

sudah selesai sampai makan malam? BELUM

sehabis makan malam, lanjut mencuci baju dan popok bayi yang kotor, beres mencuci lanjut setrika
cucian tadi pagi yang sudah kering.
biasanya semua itu selesai sekitar jam 8 - 9 malam, tergantung pulang kantor jam berapa.
belum lagi ketika ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan di rumah.

begitu seterusnya setiap hari.

jadi, punya bayi itu harus kompak antara suami dan istri,
harus kompak menjaga dan merawat bayi
jangan cuma kompak saat bikin bayi nya aja,hehe

setiap hari berlalu, setiap hari juga ada pembelajaran hal baru.

jadi,jangan takut untuk punya bayi.
karena ya memang seperti itulah menjadi orang tua dan manusia dewasa

Kamis, 04 Februari 2016

Thoriq Adhirajasa Daniswara (2)

Hari-hari setelah memiliki anak pun ternyata cukup merepotkan.
Belum lagi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menunjang kelangsungan kehidupan keluarga.
Jika saat baru menikah saja harus pintar membagi nya bersama pasangan, apalagi ketika sudah memiliki anak.

Selama masa kehamilan dan mempersiapkan kehidupan sang anak, mungkin pernah dengar orang tua berkata "anak itu pasti bawa rejeki"
Dan benar saja, saya pun merasakannya. Selain bekerja reguler di sebuah konsultan, saya pun punya usaha sampingan yaitu online shop yang membuat bantal (bantal custom). Saat awal menjalani memang terasa berat, hanya ada order 1 buah dalam 1 bulan, kemudian ada peningkatan sampai dengan sekarang alhamdulillah setiap minggu ada saja yang memesan. Dan saya percaya itu pasti rejeki yang dibawa oleh sang anak yang harus dijemput oleh kedua orang tuanya.

Karena anak itu adalah titipan dari Yang Maha Kuasa,
Tidak mungkin Yang Maha Kuasa menitipkan kepada kita tanpa diberikan jaminan kehidupannya kelak.

Misal begini, kita punya kucing peliharaan, suatu hari harus pergi keluar kota tanpa membawa kucing,
pastinya kucing itu dititipkan kepada orang yang akan merawatnya. Tentunya juga kita harus menyiapkan berupa uang untuk beli makanannya, untuk kebersihan kandangnya, untuk biaya perawatan dan sebagainya.
Begitupun dengan anak, apalagi yang menitipkan adalah Yang Maha Kuasa, percaya lah, pasti akan dicukupkan kebutuhan untuk kehidupannya.

Untuk pasangan yang belum memiliki anak, bersabarlah, gunakan waktu yang kosong ini untuk menabung mempersiapkan segalanya. Karena punya anak itu ga murah,hehe

Saat Masa Kehamilan
Biaya kontrol ke dokter kandungan setiap bulan, sekitar Rp 200.000 - Rp 600.000
Pada masa kehamilan 1-7 bulan, kontrolnya 1 bulan sekali
Pada masa kehamilan 7-8 bulan, kontrolnya 2 minggu sekali
Pada masa kehamilan 8-9 bulan, kontrolnya 1 minggu sekali
Pengajian / syukuran 4 bulanan, biaya sekitar Rp 3.000.000 - Rp 4.000.000
*tergantung kondisi masing-masing
Pengajian / syukuran 7 bulanan, biaya sekitar Rp 3.000.000 - Rp 4.000.000
*tergantung kondisi masing-masing, ada yang dilakukan dan ada yang tidak, karena 7 bulanan bersifat tradisi

Saat Persalinan,
Pada umumnya, para suami ingin memberikan kenyamanan dan layak kepada istrinya.
Maupun kepada keluarga nya saat ikut menemani,
Sebagai gambaran, saat persalinan anak pertama di Rumah Sakit Emma Poeradiredja, kelas VIP
masa perawatan 3 hari 2 malam + biaya dokter + obat + perawatan + persalinan normal
menghabiskan biaya sekitar Rp 9.700.000
Rumah Sakit Emma, menurut saya adalah salah satu rumah sakit yang masih wajar harganya dan terjangkau.

Pasca persalinan,
Saat pasca persalinan pun juga memerlukan banyak biaya.
Diantaranya aqiqah, aqiqah dilakukan 7 atau 14 atau 21 atau 28 hari setelah anak lahir.
Namun yang paling utama dilakukan pada 7 hari setelah anak lahir.
Biaya untuk 2 ekor kambing saja sudah 5-6 juta, belum biaya yang lainnya.
Jadi kemarin saat Thoriq aqiqah, kurang lebih sekitar 10-11 juta

Sekali lagi, saya tidak berniat sombong atau pamer, hanya sekedar berbagi tentang apa yang pernah saya lewati. Semua kembali lagi kepada masing-masing pribadi, karena saat ini sudah banyak sekali pilhan.
Karena urusan keuangan itu bisa jadi hal yang paling sensitif dalam kehidupan berkeluarga.

Selagi belum memiliki anak, maka menabung lah sebanyak banyaknya.
Persiapkan semuanya dengan matang. Karena anak terlahir ke dunia tidak membawa Manual Book nya,hehe

Bersambung ke Part 3 ya










Senin, 01 Februari 2016

Thoriq Adhirajasa Daniswara (1)

Thoriq Adhirajasa Daniswara, lahir di Bandung 1 Januari 2016.
Sedikit banyak cerita tentang dirinya, massa selama di kandungan, dan baru 1 bulan berada di dunia.

Selama massa kehamilan, awal-awal usia kehamilan layaknya bunda-bunda yang lain, bunda nya Thoriq ini juga morning sickness, muntah setiap pagi.

Dan alhamdulillah, ngidam nya ga terlalu sering, entah ditahan-tahan bunda nya tau emang beneran ga ngidam.

Setelah memasuki bulan ke-6 ke-7 baru deh mulai ngidam.
Untungnya ga ngidam yang aneh-aneh, cuma sebatas pengen mangga muda dan bubur ayam tengah malem.

Sejak bulan ke-6 dan ke-7, dek Thoriq makin sering diajak ngobrol ayah bunda nya.
Biasanya setiap malem dielus-elus terus diajak ngobrol ayah bilangnya begini "Nak, nanti jadi anak yang soleh ya, ayah bunda nya disayang, kalau mau lahir nanti yang normal aja ya" gitu terus sampai menjelang kelahiran.

alhamdulillah begitu waktunya lahir, lahir secara normal dan hanya berlangsung selama 30 menit di ruang persalinan.

Ketika tanggal 31 Desember 2015, hari terakhir ngantor, rencana keesokan pagi tanggal 1 Januari mau pulang ke Ciamis saja, lahiran disana. Tapi ternyata sejak sore hari bunda nya sudah mules-mules.
Beruntung tetangga di depan rumah seorang bidan, langsung lah coba di periksa.
dan ternyata sudah pembukaan 2. Panik!!

FYI : berdasarkan prediksi dokter, due date lahirannya sekitar tanggal 11-16 Januari, tapi ternyata prediksi dokter bisa meleset.

31 Desember 2015 selepas magrib langsung tancap gas ke rumah sakit,khawatir akan macet di jalan karena menginat waktu itu adalah malam pergantian tahun baru. Dan entah mengapa, seperti diberi jalan kelancaran menuju rumah sakit, setiap melewati lampu lalu lintas selalu pas lampu hijau yang menyala. Bukan cuma sekali, bahkan sampai 4 kali. Dan ketika melewat Jl. Sunda,tiba-tiba hujan besar turun, hujan turun menyebabkan banyak motor yang berhenti. Kita tahu berapa populasi motor kalau mereka sudah turun ke jalan? banyak banget! Dan saat itu hujan, hanya beberapa motor saja yang ada di jalan raya. Semakin lancar lah perjalanan saat itu.




Bisa jadi itu adalah kuasa Allah SWT memberikan kelancaran kepada kami untuk mencapai rumah sakit.

Total waktu tempuh dari rumah ke rumah sakit hanya 30 menit, dari yang biasanya sekitar 45-60 menit.
Alhamdulillah

Begitu sampai di rumah sakit, dokter kandungan yang selama ini sering berkonsultasi saat kontrol ternyata sedang cuti. Jadi lah untuk sementara waktu dibantu oleh para bidan. Dan ternyata dokter ini menitipkan kepada teman dokternya untuk membantu proses persalinan.

Bersambung ke Part 2 ya.